Minggu, 06 Desember 2015

Artikel Blended Learning

Blended learning merupakan pengembangan lebih lanjut dari metode e-Learning, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan antara sistem e-Learning dengan metode konvensional atau tata muka (face-toface). 
Dari keterangan tersebut, ada satu pertanyaan yang menjadi titik dasar adanya Blended Learning. Bagaimana  berkembangnya ataupun perkembangandari blended itu sendiri? semua akan di jawab di artikel berikut. Selamat Membaca.

Perkembangan Blended Learning dalam Pembelajaran
1102414099
Husnul Khotimah
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Perkembangan teknologi informasi berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sekalipun kemajuan tersebut masih dalam perjalannya, sejak sekarang sudah dapat diperkirakan bakal terjadi berbagai perubahan di bidang informasi maupun di bidang-bidang kehidupan lain yang berhubungan, sebagai implikasi dari perkembangan keadaan tersebut. Dengan perkembangan ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak lagi hanya terbatas pada media cetak, radio dan televisi, tetapi juga menjadikan teknologi jaringan global dan internet sebagai salah satu sumber informasi utama.
Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004), beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning.
Internet sebagai sebuah jaringan universal, dengan berbagai aplikasi yang berjalan di atasnya, memungkinkan untuk penyelenggraan pendidikan berbasis e-learning, sehingga dengan demikian akan membuka peluang bagi lembaga pendidikan untuk memperluas kesempatan belajar bagi siapapun yang memenuhi persyaratan. Dengan menerapkan konsep dasar domain teknologi pengajaran (domain of isntructional technology), maka e-Learning merupakan suatu peluang dan tantangan bagi lembaga pendidikan untuk mulai mengimplementasi Information Technology (IT)-Based education.
Dalam rangka untuk memperluas kesempatan belajar tersebut, Departemen Pendidikan Nasional, melalui beberapa kebijakan telah melahirkan program-program pendidikan berbasis IT, seperti hadirnya Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas), INHERENT (Indonesia Higher Education Network), dan beberapa program TIK lainnya, disamping model pendidikan jarak  jauh yang telah eksis seperti Universitas Terbuka (UT).
E-learning (electronic learning) adalah istilah yang paling baru pada sistem pendidikan jarak jauh (distance education) dan istilah ini diperuntukkan bagi pembelajaran secara elektronik termasuk media komputer dan telekomunikasi (Int, 1996). Definisi umum dari e-learning oleh Gilbert & Jones dalam Surjono 2007 yaitu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti Internet, intranet/extranet, satellite broadcast, audio/video tape, interactive TV, CDROM, dan computer-based training (CBT). Seseorang belajar dan mengakses informasi terkait dengan materi ajar sudah di sebut e-learning (Prawiradilaga, 2012).
Udan and Weggen (dalam Suryono, 2007) menyebutkan bahwa  e-learning adalah bagian dari pembelajaran jarak jauh sedangkan pembelajaran on-line adalah bagian dari e-learning. Sistem ini lebih interaktif namun masih memiliki berbagai kendala dan kelemahan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pertengahan tahun 1980, teknologi pembelajaran jarak jauh mulai bergeser ke pemakaian jaringan komputer untuk menyelenggaran pengajaran dan pembelajaran.
Selanjutnya dikenal pula istilah blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bentuk pembelajaran misalnya on-line, live, maupun tatap muka (konvensional). Istilah blended learning telah digunakan untuk menjelaskan berbagai konteks pembelajaran yang mengkaitkan pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi baik pada sektor korparat, pembelajaran jarak jauh, pengembangan profesionalisme dan di perguruan tinggi (Purwaningsih, 2009). Lebih lanjut Purwaningsih menjelaskan bahwa kecenderungan implementasi di berbagai pendidikan tinggi adalah menggunakan kombinasi antara pembelajaran konvensional dan pembelajaran online.
Peraturan akademik yang ada di berbagai perguruan tinggi yang masih mensyaratkan pembelajaran secara konvensional menyebabkan pembelajaran e-learning tidak dapat semata-mata menggantikan pembelajaran konvensional. Berbagai riset menyatakan bahwa  e-learning mampu meningkatkan motivasi belajar mahasiswa (Ali, 2007),  e-learning mampu meningkatkan hasil belajar (Chandra, 2007), e-learning efektif digunakan untuk mengukur kompetensi mahasiswa (Alan, 2008). Melalui pertimbangan ini maka konsep blended learning menjadi salah satu model pembelajaran yang patut dikembangkan untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan.
Blended learning dipandang sebagai pendekatan pedagogis yang menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran ketimbang dilihat dari seberapa besar delivery system antara face to face dibandingkan dengan secara online. Blended learning mengkombinasikan secara arif, relevan dan tepat antara potensi face to face dengan potensi teknologi informasi dan komunikasi yang demikian pesat berkembang saat ini sehingga memungkinkan:
a.       Terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran dari yang dulunya lebih berpusat pada guru menuju paradigma baru yang berpusat pada  siswa (student-centered elarning).
b.      Terjadinya peningkatan interaksi atau interaktifitas antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa/guru dengan konten, siswa/guru dengan sumber belajar lainnya.
c.       Terjadinya konvergensi antar berbagai metode, media sumber belajar serta lingkungan belajar lain yang relevan.
Blended learning dapat juga dipandang sebagai suatu kontinuum antara tatap muka konvensional sampai dengan online penuh. Dengan demikian ada beberapa bentuk kontinum blended learning, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Online penuh, dimana tidak ada face to face sama sekali.
b.      Online penuh, tapi ada option/pilihan untuk melakukan face to face walaupun tidak dipersyaratkan.
c.       Kebanyakan online penuh, tapi ada beberapa hari tertentu dilakukan face to face baik di kelas atau di lab atau ditempat kerja langsung (jika itu on the job training).
d.      Kebanyakan online penuh, tapi siswa tetap belajar konvensional dalam kelas atau lab setiap hari.
e.       Kebanyakan belajar konvensional di kelas atau lab, tapi siswa dipersyaratkan mengikuti aktifitas online tertentu sebagai pengayaan atau tambahan.
f.       Pembelajaran konvensional penuh, walaupun ada aktifitas online walaupun tidak dipersyaratkan bagi siswa untuk mengikutinya.
g.      Full pembelajaran konvensional.

Daftar Pustaka :
Ali, M. (2007). Analisis Dampak Implementasi Model Blended Learning (Kombinasi Pembelajaran Di Kelas dan E-Learning) Pada Mata Kuliah Medan Elektromagnetik. Jurnal UNY Yogyakarta.
Adri, M. (2003). Pengembangan Model Belajar Jarak Jauh FT UNP dengan P4TK Medan dalam Rangka Perluasan Kesempatan Belajar. Jurnal Seminar Nasional Kontribusi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dalam Pencapaian Milenium Development Goals (MDGs), Universitas Terbuka, Tanggerang Banten.
B S , H. T., & Dinarin B, A. E. (2013). Pengembangan E-Learning. Yogyakarta: Deepublish.
Salma Prawiradilaga, D.(2012). Wawasan Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Grup.
Suzana, Y. (2011). Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa dalam Pembelajaran Melalui Metode Blended Learning. Jurnal LSM XIX STAIN Zawiyah Cot Kalla Langsa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar