Blended
learning merupakan pengembangan lebih lanjut dari metode e-Learning, yaitu
metode pembelajaran yang menggabungkan antara sistem e-Learning dengan metode
konvensional atau tata muka (face-toface).
Dari keterangan tersebut, ada satu pertanyaan yang menjadi titik dasar adanya Blended Learning. Bagaimana berkembangnya ataupun perkembangandari blended itu sendiri? semua akan di jawab di artikel berikut. Selamat Membaca.
Perkembangan
Blended Learning dalam Pembelajaran
1102414099
Husnul
Khotimah
Jurusan Kurikulum dan
Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu
Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Perkembangan teknologi informasi
berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sekalipun
kemajuan tersebut masih dalam perjalannya, sejak sekarang sudah dapat
diperkirakan bakal terjadi berbagai perubahan di bidang informasi maupun di
bidang-bidang kehidupan lain yang berhubungan, sebagai implikasi dari
perkembangan keadaan tersebut. Dengan perkembangan ini
telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi
yang tidak lagi hanya terbatas pada media cetak, radio dan televisi, tetapi
juga menjadikan teknologi jaringan global dan internet sebagai salah satu
sumber informasi utama.
Salah satu bidang yang mendapatkan
dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang
pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi
dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi
informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber
informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta
peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004), beberapa bagian unsur
ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan
lahirnya ide tentang e-learning.
Internet sebagai sebuah jaringan
universal, dengan berbagai aplikasi yang berjalan di atasnya, memungkinkan
untuk penyelenggraan pendidikan berbasis e-learning, sehingga dengan demikian
akan membuka peluang bagi lembaga pendidikan untuk memperluas kesempatan
belajar bagi siapapun yang memenuhi persyaratan. Dengan menerapkan konsep dasar
domain teknologi pengajaran (domain of isntructional technology), maka
e-Learning merupakan suatu peluang dan tantangan bagi lembaga pendidikan untuk
mulai mengimplementasi Information Technology (IT)-Based education.
Dalam rangka untuk memperluas
kesempatan belajar tersebut, Departemen Pendidikan Nasional, melalui beberapa
kebijakan telah melahirkan program-program pendidikan berbasis IT, seperti
hadirnya Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas), INHERENT (Indonesia Higher
Education Network), dan beberapa program TIK lainnya, disamping model
pendidikan jarak jauh yang telah eksis
seperti Universitas Terbuka (UT).
E-learning (electronic learning) adalah
istilah yang paling baru pada sistem pendidikan jarak jauh (distance education) dan istilah ini
diperuntukkan bagi pembelajaran secara elektronik termasuk media komputer dan
telekomunikasi (Int, 1996). Definisi umum dari e-learning oleh Gilbert &
Jones dalam Surjono 2007 yaitu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu
media elektronik seperti Internet, intranet/extranet, satellite broadcast,
audio/video tape, interactive TV, CDROM, dan computer-based training (CBT). Seseorang
belajar dan mengakses informasi terkait dengan materi ajar sudah di sebut
e-learning (Prawiradilaga, 2012).
Udan and Weggen (dalam Suryono,
2007) menyebutkan bahwa e-learning adalah
bagian dari pembelajaran jarak jauh sedangkan pembelajaran on-line adalah
bagian dari e-learning. Sistem ini lebih interaktif namun masih memiliki
berbagai kendala dan kelemahan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada
pertengahan tahun 1980, teknologi pembelajaran jarak jauh mulai bergeser ke
pemakaian jaringan komputer untuk menyelenggaran pengajaran dan pembelajaran.
Selanjutnya dikenal pula istilah
blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bentuk
pembelajaran misalnya on-line, live, maupun tatap muka (konvensional). Istilah
blended learning telah digunakan untuk menjelaskan berbagai konteks
pembelajaran yang mengkaitkan pembelajaran dengan menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi baik pada sektor korparat, pembelajaran jarak jauh,
pengembangan profesionalisme dan di perguruan tinggi (Purwaningsih, 2009).
Lebih lanjut Purwaningsih menjelaskan bahwa kecenderungan implementasi di berbagai
pendidikan tinggi adalah menggunakan kombinasi antara pembelajaran konvensional
dan pembelajaran online.
Peraturan akademik yang ada di
berbagai perguruan tinggi yang masih mensyaratkan pembelajaran secara
konvensional menyebabkan pembelajaran e-learning tidak dapat semata-mata
menggantikan pembelajaran konvensional. Berbagai riset menyatakan bahwa e-learning mampu meningkatkan motivasi
belajar mahasiswa (Ali, 2007),
e-learning mampu meningkatkan hasil belajar (Chandra, 2007), e-learning efektif
digunakan untuk mengukur kompetensi mahasiswa (Alan, 2008). Melalui
pertimbangan ini maka konsep blended learning menjadi salah satu model
pembelajaran yang patut dikembangkan untuk mengatasi berbagai permasalahan
dalam dunia pendidikan.
Blended learning dipandang sebagai
pendekatan pedagogis yang menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran ketimbang
dilihat dari seberapa besar delivery system antara face to face dibandingkan
dengan secara online. Blended learning mengkombinasikan secara arif, relevan
dan tepat antara potensi face to face dengan potensi teknologi informasi dan
komunikasi yang demikian pesat berkembang saat ini sehingga memungkinkan:
a.
Terjadinya pergeseran
paradigma pembelajaran dari yang dulunya lebih berpusat pada guru menuju
paradigma baru yang berpusat pada siswa
(student-centered elarning).
b.
Terjadinya peningkatan
interaksi atau interaktifitas antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa,
siswa/guru dengan konten, siswa/guru dengan sumber belajar lainnya.
c.
Terjadinya konvergensi
antar berbagai metode, media sumber belajar serta lingkungan belajar lain yang
relevan.
Blended learning dapat juga
dipandang sebagai suatu kontinuum antara tatap muka konvensional sampai dengan
online penuh. Dengan demikian ada beberapa bentuk kontinum blended learning,
diantaranya adalah sebagai berikut:
a.
Online penuh, dimana
tidak ada face to face sama sekali.
b.
Online penuh, tapi ada
option/pilihan untuk melakukan face to face walaupun tidak dipersyaratkan.
c.
Kebanyakan online
penuh, tapi ada beberapa hari tertentu dilakukan face to face baik di kelas
atau di lab atau ditempat kerja langsung (jika itu on the job training).
d.
Kebanyakan online
penuh, tapi siswa tetap belajar konvensional dalam kelas atau lab setiap hari.
e.
Kebanyakan belajar konvensional
di kelas atau lab, tapi siswa dipersyaratkan mengikuti aktifitas online
tertentu sebagai pengayaan atau tambahan.
f.
Pembelajaran
konvensional penuh, walaupun ada aktifitas online walaupun tidak dipersyaratkan
bagi siswa untuk mengikutinya.
g.
Full pembelajaran
konvensional.
Daftar Pustaka :
Ali, M.
(2007). Analisis Dampak Implementasi Model Blended Learning (Kombinasi
Pembelajaran Di Kelas dan E-Learning) Pada Mata Kuliah Medan Elektromagnetik. Jurnal UNY Yogyakarta.
Adri, M.
(2003). Pengembangan Model Belajar Jarak Jauh FT UNP dengan P4TK Medan dalam
Rangka Perluasan Kesempatan Belajar. Jurnal
Seminar Nasional Kontribusi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dalam Pencapaian
Milenium Development Goals (MDGs), Universitas Terbuka, Tanggerang Banten.
B S , H. T., & Dinarin B, A. E. (2013). Pengembangan
E-Learning. Yogyakarta: Deepublish.
Salma Prawiradilaga,
D.(2012). Wawasan Teknologi Pendidikan.
Jakarta: Prenada Media Grup.
Suzana, Y.
(2011). Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa dalam Pembelajaran Melalui
Metode Blended Learning. Jurnal LSM XIX
STAIN Zawiyah Cot Kalla Langsa.