Kamis, 14 Januari 2016

Model Pembelajaran di Pendidikan Alternatif


Pendidikan alternatif merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman. Beberapa satuan pendidikan yang tergolong pada pendidikan alternatif antara lain Pondok Pesantren, Sekolah Alam, dan Sekolah Qoriyah Toyibah. Dari beberapa satuan pendidikan di atas menjalankan proses pembelajaran dengan model yang dirdasarkan pada materi, kondisi siswa, kondisi lingkungan serta sarana prasarana yang ada. Model-model tersebut antara lain sebagai berikut :
A      Macam-Macam Model Pembelajaran Pesantren
Berikut  ini  beberapa  metode  pembelajaran  yang menjadi ciri utama model pembelajaran di pesantren salafiyah:
1.      Metode Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan Kyai atau pembantunya (badal, asisten Kyai). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru,  dan terjadi interaksi  saling  mengenal  antara keduanya.
Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan pada ruang tertentu. Ada tempat duduk Kyai atau ustadz, di depannya ada meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap. Setelah Kyai atau ustadz membacakan teks dalam kitab kemudian santri mengulanginya. Sedangkan santri-sanri lain, baik yang mengaji kitab yang sama ataupun berbeda duduk agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh Kyai atau ustadz sekaligus mempersiapkan diri menunggu giliran dipanggil.
Inti metode sorogan adalah berlangsungnya proses belajar mengajar secara face to face antara Kyai dan santri. Keunggulan metode ini adalah Kyai secara pasti mengetahui kualitas anak didiknya, bagi santri yang IQ nya tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran, mendapatkan penjelasan yang pasti dari seorang Kyai. Kelemahannya adalah metode ini membutuhkan waktu yang sangat banyak.
2.      Metode Wetonan/ Bandongan
Wetonan istilah ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardhu. Metode wetonan ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling Kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat disebut dengan bandongan.
Pelaksanaan metode ini yaitu: Kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat (gundul). Santri dengan memegang kitab yang sama, masing-masing melakukan pendhabitan harakat kata langsung di bawah kata yang dimaksud agar dapat membantu memahami teks. Metode bandongan atau weton adalah sistem pengajaran secara kolektif yang dilakukan di pesantren. Disebut weton karena berlangsungnya pengajian itu merupakan inisiatif Kyai sendiri, baik dalam menentukan tempat, waktu, terutama kitabnya.
3.      Metode Musyawarah/ Bahtsul Masa'il
Metode musyawarah atau dalam istilah lain bahtsul masa'il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh Kyai atau ustadz, atau mungkin juga senior, untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam pelaksanaannya, para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau pendapatnya.
Kegiatan penilaian oleh Kyai atau ustadz dilakukan selama kegiatan musyawarah berlangsung. Hal-hal yang menjadi perhatiannya adalah kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta yang meliputi kelogisan jawaban, ketepatan dan kevalidan referensi yang disebutkan, serta bahasa yang disampaikan dapat mudah difahami oleh santri yang lain. Hal lain yang dinilai adalah pemahaman terhadap teks bacaan, juga kebenaran dan ketepatan peserta dalam membaca dan menyimpulkan isi teks yang menjadi persoalan atau teks yang menjadi rujukan.
4.      Metode Pengajian Pasaran
Metode pengajian pasaran adalah kegiatan belajar para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang Kyai/ ustadz yang  dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan yang terus menerus selama tenggang waktu tertentu. Pada umumnya dilakukan pada bulan Ramadhan selama setengah bulan, dua puluh hari atau terkadang satu bulan penuh tergantung pada besarnya kitab yang dikaji.
Metode ini lebih mirip dengan metode bandongan, tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesainya kitab yang dipelajari. Jadi, dalam metode ini yang menjadi titik beratnya terletak pada pembacaan bukan pada pemahaman sebagaimana pada metode bandongan.
5.      Metode Hapalan (Muhafazhah)
Metode hapalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghapal suatu teks tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan Kyai/ustadz. Para santri diberi tugas untuk menghapal bacaan-bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hapalan yang dimiliki santri ini kemudian dihapalkan di hadapan Kyai/ustadz secara periodik atau insidental tergantung kepada petunjuk Kyai/ustadz yang bersangkutan. Materi pelajaran dengan metode hapalan umumnya berkenaan dengan Al Qur’an, nazham-nazham nahwu, sharaf, tajwid ataupun teks-teks nahwu, sharaf dan fiqih.
6.      Metode Demonstrasi/ Praktek Ibadah
Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan meperagakan (mendemonstrasikan) suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan perorangan maupun kelompok di bawah petunjuk dan bimbingan Kyai/ustadz. dengan kegiatan sebagai berikut:
-          Para santri mendapatkan penjelasan/ teori tentang tata cara pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betul-betul memahaminya.
-          Para santri berdasarkan bimbingan para Kyai/ ustadz mempersiapkan  segala peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan praktek. 
-          Setelah menentukan waktu dan tempat, para santri berkumpul untuk menerima penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan yang akan dilakukan serta pemberian tugas kepada para santri berkenaan dengan pelaksanaan praktek.
-          Para santri secara bergiliran/ bergantian memperagakan pelaksanaan praktek ibadah tertentu dengan dibimbing dan diarahkan oleh Kyai/ ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya).
-          Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para santri diberi kesempatan menanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama berlangsung kegiatan.
7.      Metode Muhawarah
Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih dengan bahasa Arab yang diwajibkan oleh pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok. Beberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadasah tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam seminggu yang digabungkan dengan latihan   muhadhoroh atau khitobah, yang tujuannya melatih keterampilan anak didik berpidato.
8.      Metode Mudzakarah
Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta masalah agama pada umumnya. Dalam mudzakarah tersebut dapat dibedakan atas dua tingkat kegiatan:
-          Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah dengan tujuan melatih para santri agar terlatih dalam memecahkan persoalan dengan mempergunakan kitab-kitab yang tersedia. Salah seorang santri ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan dari masalah yang didiskusikan
-          Mudzakarah yang dipimpin oleh Kyai, dimana hasil mudzakarah para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti dalam suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.

Dalam upaya pengembangan model pembelajaran di pesantren, yang menjadi pertimbangan bukan upaya untuk mengganti metode sorogan menjadi model perkuliahan sebagaimana sistem pendidikan modern, melainkan merenovasi sorogan menjadi sorogan yang mutakhir (gaya baru). Dimaksudkan sorogan yang mutakhir ini sebagaimana praktik dosen-dosen selama ini. Mereka mengajar kuliah dengan model sorogan. Mahasiswa diberi tugas satu persatu pada waktu tatap muka yang terjadual, setelah membaca diadakan pembahasan dengan cara berdialog dan berdiskusi sampai mendapatkan pemahaman yang jelas pada pokok bahasan.
Sejalan dengan itu, tampaknya perlu dikembangkan di pesantren model sorogan gaya mutakhir ini sebagai upaya pengembangan model pengajaran. Sudah barang tentu akan lebih lengkap apabila beberapa usulan metode sebagai alternatif perlu dipertimbangkan, seperti metode ceramah, kelompok kerja, tanya-jawab, diskusi, demonstrasi, eksperimen, widya wisata, dan simulasi. Pola pengembangan pembelajaran yang disebutkan di atas, dapat dituangkan ke dalam metode pembelajaran yang digunakan sewaktu mengajar. Adapun metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Metode Pembelajaran Terbimbing
Dalam teknik ini, guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka pengetahuan mata pelajaran atau mendapatkan hipotesis atau kesimpulan mereka dan kemudian memilahnya kedalam kategori- kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan perubahan dari ceramah secara langsung dan memungkinkan santri mempelajari apa yang telah diketahui dan dipahami sebelum membuat poin-poin  pengajaran. Metode ini sangat berguna ketika mengajarkan konsep-konsep abstrak.
b.      Metode Mengajar Teman Sebaya
Beberapa ahli percaya bahwa satu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila seorang peserta didik mampu mengajarkan pada peserta lain. Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan pada peserta didik mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, ia menjadi narasumber bagi yang lain.
Adapun langkah-langkah metode mengajar teman sebaya ini, adalah:
-          Memulai dengan memberikan kisi-kisi atau bahan pelajaran kepada santri
-          Menyuruh santri untuk mempelajarinya atau mendiskusikannya sejenak
-          Menunjuk perwakilan dari santri untuk maju ke depan
-          Menyuruh perwakilan santri tersebut untuk mengajarkan (menerangkan) materi yang telah didiskusikan atau dipelajari.

B       Model Pembelajaran di Sekolah Alam
Model pembelajaran yang digunakan di dalam sekoalh alam biasanya banyak berkaitan langsung terhadap alam sekitar. Sehingga metode tersebut lebih memberikan pengalaman langsung terhadap siswa. Model pembelajaran tersebut antara lain menggunakan metode sebagai berikut :
·         Media pendidikan, Observasi dan Riset. Dengan cara mengamati dan memahami langsung gejala alam yang terjadi, sehingga kita bisa mendapatkan media belajar yang bermutu dan murah.
·         Modal Produksi (Magang dan Dagang). Dengan mengolah hasil dari praktik di alam,diharapkan mampu membiayai diri sehingga secara langsung belajar hidup mandiri.
·         Sarana pengembangan manusia. Manusia yang tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksinya dengan alam akan menghasilkan manusia yang berakhlak mulia terhadap sang Khaliq (Ibadah), sesama manusia dan mahluk lainnya (Mua’malah) serta adil dan cinta damai (Khalifah).
            selain metode di atas, sekolah alam juga menggunakan Metode Action Learning (AL) memiliki formula L = P + Q. Rinciannya: L untuk learning, P untuk “program knowledge” yang diperoleh dari buku, majalah, internet atau televisi yang telah didisain untuk keperluan siswa atau mahasiswa, sedangkan Q adalah “the questioning process“yaitu proses bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi. Menurut Dr. Antony Hii, perguruan tinggi dunia sekelas Harvard dan Massachussets Institute of Technology (MIT) kini telah menerapkan sistem yang serupa dengan AL, hanya saja di Harvard asas itu disebut dengan asas “what if“: belajar mengantisipasi “bagaimana jika sesuatu hal terjadi dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.”
Bisa disimpulkan bahwa AL merupakan sebuah metode alternatif untuk melengkapi metode-metode peningkatan sumber daya manusia yang selama ini dijadikan konsep baku di seluruh dunia melalui sistem kurikulum klasikal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Mengapa menggunakan Action Learning? Kombinasi “doing” dan “thinking” pada kegiatan Action Learning menghasilkan beberapa manfaat yang unik. Seperti hal dibawah ini:
·         Ownership.
·         Creativity.
·         Communication.
·         Personal growth.

·         Application.

Kamis, 17 Desember 2015

Sistem Wajib Belajar

Sistem Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun
Memanas di Meja Hijau Mahkamah Konstitusi
Husnul Khotimah
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Abstrak
Artikel ini membahas sebuah sistem pendidikan di Indonesia, yaitu sistem pendidikan wajib belajar 9 tahun. Sistem pendidikan wajib belajar 9 tahun ini memanas di meja hijau Mahkamah Konstitusi ketika salah satu Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mengajukan gugatan tentang sistem pendidikan wajib belajar 9 tahun yang ia anggap sudah tidak sesuai dan tidak relevan lagi dengan keadaan di Indonesia saat ini. Selain itu, ia juga menilai Pasal 6 ayat (1) UU Sisdiknas tidak sejalan dengan pasal 28C ayat (1), pasal 31 ayat (2) UUD 1945. Sidang perdana di gelar beberapa hari setelah gugatan itu di ajukan.  Proses sidang tidak berlangsung lama karena Hakim Konstitusi justru meminta pemohon untuk lebih jeli dalam mengajukan gugatan. Hakim menganggap para pemohon tidak benar-benar mengalami kerugian dengan berlakunya pasal tersebut. Namun, perubahan sistem pendidikan wajib belajar 9 tahun  menuju sistem pendidikan wajib belajar 12 tahun tetap diharapkan dengan mengingat bahwa pendidikan merupakan salah satu kunci penting dalam proses perkembangan untuk memajukan suatu bangsa. Suatu bangsa dapat dikatakan maju manakala tingkat pendidikannya tinggi.
Kata kunci: Sistem Pendidikan Nasional, Wajib Belajar 9 tahun.
Pendahuluan
Sistem Pendidikan Nasional merupakan kegiatan sistemik tentang pendidikan yang ditengarai sebagai kunci pembangunan bangsa. Melalui sistem pendidikan ini diharapkan memiliki kekuatan yang dapat mendorong perubahan masyarakat (Munib, 2013). Agar pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah memiliki kekuatan, perlu kiranya di berikan suatu sistem yang kokoh dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah sistem pendidikan wajib belajar 9 tahun.

Minggu, 06 Desember 2015

Artikel Blended Learning

Blended learning merupakan pengembangan lebih lanjut dari metode e-Learning, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan antara sistem e-Learning dengan metode konvensional atau tata muka (face-toface). 
Dari keterangan tersebut, ada satu pertanyaan yang menjadi titik dasar adanya Blended Learning. Bagaimana  berkembangnya ataupun perkembangandari blended itu sendiri? semua akan di jawab di artikel berikut. Selamat Membaca.

Perkembangan Blended Learning dalam Pembelajaran
1102414099
Husnul Khotimah
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Perkembangan teknologi informasi berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sekalipun kemajuan tersebut masih dalam perjalannya, sejak sekarang sudah dapat diperkirakan bakal terjadi berbagai perubahan di bidang informasi maupun di bidang-bidang kehidupan lain yang berhubungan, sebagai implikasi dari perkembangan keadaan tersebut. Dengan perkembangan ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak lagi hanya terbatas pada media cetak, radio dan televisi, tetapi juga menjadikan teknologi jaringan global dan internet sebagai salah satu sumber informasi utama.
Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004), beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning.
Internet sebagai sebuah jaringan universal, dengan berbagai aplikasi yang berjalan di atasnya, memungkinkan untuk penyelenggraan pendidikan berbasis e-learning, sehingga dengan demikian akan membuka peluang bagi lembaga pendidikan untuk memperluas kesempatan belajar bagi siapapun yang memenuhi persyaratan. Dengan menerapkan konsep dasar domain teknologi pengajaran (domain of isntructional technology), maka e-Learning merupakan suatu peluang dan tantangan bagi lembaga pendidikan untuk mulai mengimplementasi Information Technology (IT)-Based education.
Dalam rangka untuk memperluas kesempatan belajar tersebut, Departemen Pendidikan Nasional, melalui beberapa kebijakan telah melahirkan program-program pendidikan berbasis IT, seperti hadirnya Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas), INHERENT (Indonesia Higher Education Network), dan beberapa program TIK lainnya, disamping model pendidikan jarak  jauh yang telah eksis seperti Universitas Terbuka (UT).
E-learning (electronic learning) adalah istilah yang paling baru pada sistem pendidikan jarak jauh (distance education) dan istilah ini diperuntukkan bagi pembelajaran secara elektronik termasuk media komputer dan telekomunikasi (Int, 1996). Definisi umum dari e-learning oleh Gilbert & Jones dalam Surjono 2007 yaitu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti Internet, intranet/extranet, satellite broadcast, audio/video tape, interactive TV, CDROM, dan computer-based training (CBT). Seseorang belajar dan mengakses informasi terkait dengan materi ajar sudah di sebut e-learning (Prawiradilaga, 2012).
Udan and Weggen (dalam Suryono, 2007) menyebutkan bahwa  e-learning adalah bagian dari pembelajaran jarak jauh sedangkan pembelajaran on-line adalah bagian dari e-learning. Sistem ini lebih interaktif namun masih memiliki berbagai kendala dan kelemahan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pertengahan tahun 1980, teknologi pembelajaran jarak jauh mulai bergeser ke pemakaian jaringan komputer untuk menyelenggaran pengajaran dan pembelajaran.
Selanjutnya dikenal pula istilah blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bentuk pembelajaran misalnya on-line, live, maupun tatap muka (konvensional). Istilah blended learning telah digunakan untuk menjelaskan berbagai konteks pembelajaran yang mengkaitkan pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi baik pada sektor korparat, pembelajaran jarak jauh, pengembangan profesionalisme dan di perguruan tinggi (Purwaningsih, 2009). Lebih lanjut Purwaningsih menjelaskan bahwa kecenderungan implementasi di berbagai pendidikan tinggi adalah menggunakan kombinasi antara pembelajaran konvensional dan pembelajaran online.
Peraturan akademik yang ada di berbagai perguruan tinggi yang masih mensyaratkan pembelajaran secara konvensional menyebabkan pembelajaran e-learning tidak dapat semata-mata menggantikan pembelajaran konvensional. Berbagai riset menyatakan bahwa  e-learning mampu meningkatkan motivasi belajar mahasiswa (Ali, 2007),  e-learning mampu meningkatkan hasil belajar (Chandra, 2007), e-learning efektif digunakan untuk mengukur kompetensi mahasiswa (Alan, 2008). Melalui pertimbangan ini maka konsep blended learning menjadi salah satu model pembelajaran yang patut dikembangkan untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan.
Blended learning dipandang sebagai pendekatan pedagogis yang menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran ketimbang dilihat dari seberapa besar delivery system antara face to face dibandingkan dengan secara online. Blended learning mengkombinasikan secara arif, relevan dan tepat antara potensi face to face dengan potensi teknologi informasi dan komunikasi yang demikian pesat berkembang saat ini sehingga memungkinkan:
a.       Terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran dari yang dulunya lebih berpusat pada guru menuju paradigma baru yang berpusat pada  siswa (student-centered elarning).
b.      Terjadinya peningkatan interaksi atau interaktifitas antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa/guru dengan konten, siswa/guru dengan sumber belajar lainnya.
c.       Terjadinya konvergensi antar berbagai metode, media sumber belajar serta lingkungan belajar lain yang relevan.
Blended learning dapat juga dipandang sebagai suatu kontinuum antara tatap muka konvensional sampai dengan online penuh. Dengan demikian ada beberapa bentuk kontinum blended learning, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Online penuh, dimana tidak ada face to face sama sekali.
b.      Online penuh, tapi ada option/pilihan untuk melakukan face to face walaupun tidak dipersyaratkan.
c.       Kebanyakan online penuh, tapi ada beberapa hari tertentu dilakukan face to face baik di kelas atau di lab atau ditempat kerja langsung (jika itu on the job training).
d.      Kebanyakan online penuh, tapi siswa tetap belajar konvensional dalam kelas atau lab setiap hari.
e.       Kebanyakan belajar konvensional di kelas atau lab, tapi siswa dipersyaratkan mengikuti aktifitas online tertentu sebagai pengayaan atau tambahan.
f.       Pembelajaran konvensional penuh, walaupun ada aktifitas online walaupun tidak dipersyaratkan bagi siswa untuk mengikutinya.
g.      Full pembelajaran konvensional.

Daftar Pustaka :
Ali, M. (2007). Analisis Dampak Implementasi Model Blended Learning (Kombinasi Pembelajaran Di Kelas dan E-Learning) Pada Mata Kuliah Medan Elektromagnetik. Jurnal UNY Yogyakarta.
Adri, M. (2003). Pengembangan Model Belajar Jarak Jauh FT UNP dengan P4TK Medan dalam Rangka Perluasan Kesempatan Belajar. Jurnal Seminar Nasional Kontribusi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dalam Pencapaian Milenium Development Goals (MDGs), Universitas Terbuka, Tanggerang Banten.
B S , H. T., & Dinarin B, A. E. (2013). Pengembangan E-Learning. Yogyakarta: Deepublish.
Salma Prawiradilaga, D.(2012). Wawasan Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Grup.
Suzana, Y. (2011). Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa dalam Pembelajaran Melalui Metode Blended Learning. Jurnal LSM XIX STAIN Zawiyah Cot Kalla Langsa.