Kamis, 14 Januari 2016

Model Pembelajaran di Pendidikan Alternatif


Pendidikan alternatif merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman. Beberapa satuan pendidikan yang tergolong pada pendidikan alternatif antara lain Pondok Pesantren, Sekolah Alam, dan Sekolah Qoriyah Toyibah. Dari beberapa satuan pendidikan di atas menjalankan proses pembelajaran dengan model yang dirdasarkan pada materi, kondisi siswa, kondisi lingkungan serta sarana prasarana yang ada. Model-model tersebut antara lain sebagai berikut :
A      Macam-Macam Model Pembelajaran Pesantren
Berikut  ini  beberapa  metode  pembelajaran  yang menjadi ciri utama model pembelajaran di pesantren salafiyah:
1.      Metode Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan Kyai atau pembantunya (badal, asisten Kyai). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru,  dan terjadi interaksi  saling  mengenal  antara keduanya.
Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan pada ruang tertentu. Ada tempat duduk Kyai atau ustadz, di depannya ada meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap. Setelah Kyai atau ustadz membacakan teks dalam kitab kemudian santri mengulanginya. Sedangkan santri-sanri lain, baik yang mengaji kitab yang sama ataupun berbeda duduk agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh Kyai atau ustadz sekaligus mempersiapkan diri menunggu giliran dipanggil.
Inti metode sorogan adalah berlangsungnya proses belajar mengajar secara face to face antara Kyai dan santri. Keunggulan metode ini adalah Kyai secara pasti mengetahui kualitas anak didiknya, bagi santri yang IQ nya tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran, mendapatkan penjelasan yang pasti dari seorang Kyai. Kelemahannya adalah metode ini membutuhkan waktu yang sangat banyak.
2.      Metode Wetonan/ Bandongan
Wetonan istilah ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardhu. Metode wetonan ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling Kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat disebut dengan bandongan.
Pelaksanaan metode ini yaitu: Kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat (gundul). Santri dengan memegang kitab yang sama, masing-masing melakukan pendhabitan harakat kata langsung di bawah kata yang dimaksud agar dapat membantu memahami teks. Metode bandongan atau weton adalah sistem pengajaran secara kolektif yang dilakukan di pesantren. Disebut weton karena berlangsungnya pengajian itu merupakan inisiatif Kyai sendiri, baik dalam menentukan tempat, waktu, terutama kitabnya.
3.      Metode Musyawarah/ Bahtsul Masa'il
Metode musyawarah atau dalam istilah lain bahtsul masa'il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh Kyai atau ustadz, atau mungkin juga senior, untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam pelaksanaannya, para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau pendapatnya.
Kegiatan penilaian oleh Kyai atau ustadz dilakukan selama kegiatan musyawarah berlangsung. Hal-hal yang menjadi perhatiannya adalah kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta yang meliputi kelogisan jawaban, ketepatan dan kevalidan referensi yang disebutkan, serta bahasa yang disampaikan dapat mudah difahami oleh santri yang lain. Hal lain yang dinilai adalah pemahaman terhadap teks bacaan, juga kebenaran dan ketepatan peserta dalam membaca dan menyimpulkan isi teks yang menjadi persoalan atau teks yang menjadi rujukan.
4.      Metode Pengajian Pasaran
Metode pengajian pasaran adalah kegiatan belajar para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang Kyai/ ustadz yang  dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan yang terus menerus selama tenggang waktu tertentu. Pada umumnya dilakukan pada bulan Ramadhan selama setengah bulan, dua puluh hari atau terkadang satu bulan penuh tergantung pada besarnya kitab yang dikaji.
Metode ini lebih mirip dengan metode bandongan, tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesainya kitab yang dipelajari. Jadi, dalam metode ini yang menjadi titik beratnya terletak pada pembacaan bukan pada pemahaman sebagaimana pada metode bandongan.
5.      Metode Hapalan (Muhafazhah)
Metode hapalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghapal suatu teks tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan Kyai/ustadz. Para santri diberi tugas untuk menghapal bacaan-bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hapalan yang dimiliki santri ini kemudian dihapalkan di hadapan Kyai/ustadz secara periodik atau insidental tergantung kepada petunjuk Kyai/ustadz yang bersangkutan. Materi pelajaran dengan metode hapalan umumnya berkenaan dengan Al Qur’an, nazham-nazham nahwu, sharaf, tajwid ataupun teks-teks nahwu, sharaf dan fiqih.
6.      Metode Demonstrasi/ Praktek Ibadah
Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan meperagakan (mendemonstrasikan) suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan perorangan maupun kelompok di bawah petunjuk dan bimbingan Kyai/ustadz. dengan kegiatan sebagai berikut:
-          Para santri mendapatkan penjelasan/ teori tentang tata cara pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betul-betul memahaminya.
-          Para santri berdasarkan bimbingan para Kyai/ ustadz mempersiapkan  segala peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan praktek. 
-          Setelah menentukan waktu dan tempat, para santri berkumpul untuk menerima penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan yang akan dilakukan serta pemberian tugas kepada para santri berkenaan dengan pelaksanaan praktek.
-          Para santri secara bergiliran/ bergantian memperagakan pelaksanaan praktek ibadah tertentu dengan dibimbing dan diarahkan oleh Kyai/ ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya).
-          Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para santri diberi kesempatan menanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama berlangsung kegiatan.
7.      Metode Muhawarah
Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih dengan bahasa Arab yang diwajibkan oleh pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok. Beberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadasah tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam seminggu yang digabungkan dengan latihan   muhadhoroh atau khitobah, yang tujuannya melatih keterampilan anak didik berpidato.
8.      Metode Mudzakarah
Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta masalah agama pada umumnya. Dalam mudzakarah tersebut dapat dibedakan atas dua tingkat kegiatan:
-          Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah dengan tujuan melatih para santri agar terlatih dalam memecahkan persoalan dengan mempergunakan kitab-kitab yang tersedia. Salah seorang santri ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan dari masalah yang didiskusikan
-          Mudzakarah yang dipimpin oleh Kyai, dimana hasil mudzakarah para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti dalam suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.

Dalam upaya pengembangan model pembelajaran di pesantren, yang menjadi pertimbangan bukan upaya untuk mengganti metode sorogan menjadi model perkuliahan sebagaimana sistem pendidikan modern, melainkan merenovasi sorogan menjadi sorogan yang mutakhir (gaya baru). Dimaksudkan sorogan yang mutakhir ini sebagaimana praktik dosen-dosen selama ini. Mereka mengajar kuliah dengan model sorogan. Mahasiswa diberi tugas satu persatu pada waktu tatap muka yang terjadual, setelah membaca diadakan pembahasan dengan cara berdialog dan berdiskusi sampai mendapatkan pemahaman yang jelas pada pokok bahasan.
Sejalan dengan itu, tampaknya perlu dikembangkan di pesantren model sorogan gaya mutakhir ini sebagai upaya pengembangan model pengajaran. Sudah barang tentu akan lebih lengkap apabila beberapa usulan metode sebagai alternatif perlu dipertimbangkan, seperti metode ceramah, kelompok kerja, tanya-jawab, diskusi, demonstrasi, eksperimen, widya wisata, dan simulasi. Pola pengembangan pembelajaran yang disebutkan di atas, dapat dituangkan ke dalam metode pembelajaran yang digunakan sewaktu mengajar. Adapun metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Metode Pembelajaran Terbimbing
Dalam teknik ini, guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka pengetahuan mata pelajaran atau mendapatkan hipotesis atau kesimpulan mereka dan kemudian memilahnya kedalam kategori- kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan perubahan dari ceramah secara langsung dan memungkinkan santri mempelajari apa yang telah diketahui dan dipahami sebelum membuat poin-poin  pengajaran. Metode ini sangat berguna ketika mengajarkan konsep-konsep abstrak.
b.      Metode Mengajar Teman Sebaya
Beberapa ahli percaya bahwa satu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila seorang peserta didik mampu mengajarkan pada peserta lain. Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan pada peserta didik mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, ia menjadi narasumber bagi yang lain.
Adapun langkah-langkah metode mengajar teman sebaya ini, adalah:
-          Memulai dengan memberikan kisi-kisi atau bahan pelajaran kepada santri
-          Menyuruh santri untuk mempelajarinya atau mendiskusikannya sejenak
-          Menunjuk perwakilan dari santri untuk maju ke depan
-          Menyuruh perwakilan santri tersebut untuk mengajarkan (menerangkan) materi yang telah didiskusikan atau dipelajari.

B       Model Pembelajaran di Sekolah Alam
Model pembelajaran yang digunakan di dalam sekoalh alam biasanya banyak berkaitan langsung terhadap alam sekitar. Sehingga metode tersebut lebih memberikan pengalaman langsung terhadap siswa. Model pembelajaran tersebut antara lain menggunakan metode sebagai berikut :
·         Media pendidikan, Observasi dan Riset. Dengan cara mengamati dan memahami langsung gejala alam yang terjadi, sehingga kita bisa mendapatkan media belajar yang bermutu dan murah.
·         Modal Produksi (Magang dan Dagang). Dengan mengolah hasil dari praktik di alam,diharapkan mampu membiayai diri sehingga secara langsung belajar hidup mandiri.
·         Sarana pengembangan manusia. Manusia yang tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksinya dengan alam akan menghasilkan manusia yang berakhlak mulia terhadap sang Khaliq (Ibadah), sesama manusia dan mahluk lainnya (Mua’malah) serta adil dan cinta damai (Khalifah).
            selain metode di atas, sekolah alam juga menggunakan Metode Action Learning (AL) memiliki formula L = P + Q. Rinciannya: L untuk learning, P untuk “program knowledge” yang diperoleh dari buku, majalah, internet atau televisi yang telah didisain untuk keperluan siswa atau mahasiswa, sedangkan Q adalah “the questioning process“yaitu proses bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi. Menurut Dr. Antony Hii, perguruan tinggi dunia sekelas Harvard dan Massachussets Institute of Technology (MIT) kini telah menerapkan sistem yang serupa dengan AL, hanya saja di Harvard asas itu disebut dengan asas “what if“: belajar mengantisipasi “bagaimana jika sesuatu hal terjadi dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.”
Bisa disimpulkan bahwa AL merupakan sebuah metode alternatif untuk melengkapi metode-metode peningkatan sumber daya manusia yang selama ini dijadikan konsep baku di seluruh dunia melalui sistem kurikulum klasikal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Mengapa menggunakan Action Learning? Kombinasi “doing” dan “thinking” pada kegiatan Action Learning menghasilkan beberapa manfaat yang unik. Seperti hal dibawah ini:
·         Ownership.
·         Creativity.
·         Communication.
·         Personal growth.

·         Application.