Pendidikan
alternatif merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang
dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan
alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual,
memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik
serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman. Beberapa satuan pendidikan
yang tergolong pada pendidikan alternatif antara lain Pondok Pesantren, Sekolah
Alam, dan Sekolah Qoriyah Toyibah. Dari beberapa satuan pendidikan di atas
menjalankan proses pembelajaran dengan model yang dirdasarkan pada materi,
kondisi siswa, kondisi lingkungan serta sarana prasarana yang ada. Model-model
tersebut antara lain sebagai berikut :
A
Macam-Macam Model Pembelajaran Pesantren
Berikut ini beberapa
metode pembelajaran yang menjadi ciri utama model pembelajaran
di pesantren salafiyah:
1. Metode Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa),
yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan
Kyai atau pembantunya (badal, asisten Kyai). Sistem sorogan ini termasuk
belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang
guru, dan terjadi interaksi saling mengenal
antara keduanya.
Pembelajaran dengan sistem sorogan
biasanya diselenggarakan pada ruang tertentu. Ada tempat duduk Kyai atau
ustadz, di depannya ada meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang
menghadap. Setelah Kyai atau ustadz membacakan teks dalam kitab kemudian santri
mengulanginya. Sedangkan santri-sanri lain, baik yang mengaji kitab yang sama
ataupun berbeda duduk agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh
Kyai atau ustadz sekaligus mempersiapkan diri menunggu giliran dipanggil.
Inti metode sorogan adalah berlangsungnya
proses belajar mengajar secara face to face antara Kyai dan santri.
Keunggulan metode ini adalah Kyai secara pasti mengetahui kualitas anak
didiknya, bagi santri yang IQ nya tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran,
mendapatkan penjelasan yang pasti dari seorang Kyai. Kelemahannya adalah metode
ini membutuhkan waktu yang sangat banyak.
2. Metode Wetonan/ Bandongan
Wetonan istilah ini berasal dari kata wektu
(bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada
waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardhu.
Metode wetonan ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti
pelajaran dengan duduk di sekeliling Kyai yang menerangkan pelajaran secara
kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya.
Istilah wetonan ini di Jawa Barat disebut dengan bandongan.
Pelaksanaan metode ini yaitu: Kyai membaca,
menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas teks-teks kitab berbahasa
Arab tanpa harakat (gundul). Santri dengan memegang kitab yang sama,
masing-masing melakukan pendhabitan harakat kata langsung di bawah kata
yang dimaksud agar dapat membantu memahami teks. Metode bandongan atau weton
adalah sistem pengajaran secara kolektif yang dilakukan di
pesantren. Disebut weton karena berlangsungnya pengajian itu merupakan
inisiatif Kyai sendiri, baik dalam menentukan tempat, waktu, terutama kitabnya.
3. Metode Musyawarah/ Bahtsul Masa'il
Metode musyawarah atau dalam istilah lain bahtsul
masa'il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode
diskusi atau seminar. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentuk
halaqah yang dipimpin langsung oleh Kyai atau ustadz, atau mungkin juga senior,
untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam pelaksanaannya, para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan
atau pendapatnya.
Kegiatan penilaian oleh Kyai atau ustadz dilakukan selama kegiatan
musyawarah berlangsung. Hal-hal yang menjadi perhatiannya adalah kualitas
jawaban yang diberikan oleh peserta yang meliputi kelogisan jawaban, ketepatan
dan kevalidan referensi yang disebutkan, serta bahasa yang disampaikan dapat
mudah difahami oleh santri yang lain. Hal lain yang dinilai adalah pemahaman
terhadap teks bacaan, juga kebenaran dan ketepatan peserta dalam membaca dan
menyimpulkan isi teks yang menjadi persoalan atau teks yang menjadi rujukan.
4. Metode Pengajian Pasaran
Metode pengajian pasaran adalah kegiatan belajar
para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang Kyai/
ustadz yang dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan yang terus
menerus selama tenggang waktu tertentu. Pada umumnya dilakukan pada bulan
Ramadhan selama setengah bulan, dua puluh hari atau terkadang satu bulan penuh
tergantung pada besarnya kitab yang dikaji.
Metode ini lebih mirip dengan metode bandongan,
tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesainya kitab yang dipelajari.
Jadi, dalam metode ini yang menjadi titik beratnya terletak pada pembacaan
bukan pada pemahaman sebagaimana pada metode bandongan.
5. Metode Hapalan (Muhafazhah)
Metode hapalan ialah kegiatan belajar santri dengan
cara menghapal suatu teks tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan
Kyai/ustadz. Para santri diberi tugas untuk menghapal bacaan-bacaan dalam
jangka waktu tertentu. Hapalan yang dimiliki santri ini kemudian dihapalkan di
hadapan Kyai/ustadz secara periodik atau insidental tergantung kepada petunjuk
Kyai/ustadz yang bersangkutan. Materi pelajaran dengan metode hapalan umumnya
berkenaan dengan Al Qur’an, nazham-nazham nahwu, sharaf, tajwid ataupun
teks-teks nahwu, sharaf dan fiqih.
6. Metode Demonstrasi/ Praktek Ibadah
Metode ini adalah cara pembelajaran yang
dilakukan dengan meperagakan (mendemonstrasikan) suatu keterampilan dalam hal
pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan perorangan maupun kelompok di bawah
petunjuk dan bimbingan Kyai/ustadz. dengan kegiatan sebagai berikut:
- Para santri mendapatkan penjelasan/ teori tentang
tata cara pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betul-betul
memahaminya.
- Para
santri berdasarkan bimbingan para Kyai/ ustadz mempersiapkan segala
peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan praktek.
- Setelah menentukan waktu dan tempat, para santri
berkumpul untuk menerima penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan
yang akan dilakukan serta pemberian tugas kepada para santri berkenaan dengan
pelaksanaan praktek.
- Para santri secara bergiliran/ bergantian
memperagakan pelaksanaan praktek ibadah tertentu dengan dibimbing dan diarahkan
oleh Kyai/ ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata cara
pelaksanaan ibadah sesungguhnya).
- Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para
santri diberi kesempatan menanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama
berlangsung kegiatan.
7. Metode Muhawarah
Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih dengan bahasa
Arab yang diwajibkan oleh pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di
pondok. Beberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadasah
tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam
seminggu yang digabungkan dengan latihan muhadhoroh atau khitobah,
yang tujuannya melatih keterampilan anak didik berpidato.
8. Metode Mudzakarah
Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik
membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta masalah agama pada
umumnya. Dalam mudzakarah tersebut dapat dibedakan atas dua tingkat
kegiatan:
- Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk
membahas suatu masalah dengan tujuan melatih para santri agar terlatih dalam
memecahkan persoalan dengan mempergunakan kitab-kitab yang tersedia. Salah
seorang santri ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan dari
masalah yang didiskusikan
- Mudzakarah yang dipimpin oleh Kyai, dimana hasil mudzakarah
para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti dalam suatu seminar.
Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan hampir seluruhnya diselenggarakan
dalam bahasa Arab.
Dalam upaya pengembangan model pembelajaran di pesantren, yang menjadi
pertimbangan bukan upaya untuk mengganti metode sorogan menjadi model
perkuliahan sebagaimana sistem pendidikan modern, melainkan merenovasi sorogan
menjadi sorogan yang mutakhir (gaya baru). Dimaksudkan sorogan
yang mutakhir ini sebagaimana praktik dosen-dosen selama ini. Mereka mengajar
kuliah dengan model sorogan. Mahasiswa diberi tugas satu persatu pada
waktu tatap muka yang terjadual, setelah membaca diadakan pembahasan dengan
cara berdialog dan berdiskusi sampai mendapatkan pemahaman yang jelas pada
pokok bahasan.
Sejalan dengan itu, tampaknya perlu dikembangkan di pesantren model sorogan
gaya mutakhir ini sebagai upaya pengembangan model pengajaran. Sudah barang
tentu akan lebih lengkap apabila beberapa usulan metode sebagai alternatif
perlu dipertimbangkan, seperti metode ceramah, kelompok kerja, tanya-jawab,
diskusi, demonstrasi, eksperimen, widya wisata, dan simulasi. Pola pengembangan pembelajaran yang disebutkan di
atas, dapat dituangkan ke dalam metode pembelajaran yang digunakan sewaktu
mengajar. Adapun metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Metode Pembelajaran Terbimbing
Dalam
teknik ini, guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk membuka
pengetahuan mata pelajaran atau mendapatkan hipotesis atau kesimpulan mereka
dan kemudian memilahnya kedalam kategori- kategori. Metode pembelajaran
terbimbing merupakan perubahan dari ceramah secara langsung dan memungkinkan
santri mempelajari apa yang telah diketahui dan dipahami sebelum membuat
poin-poin pengajaran. Metode ini sangat berguna ketika mengajarkan
konsep-konsep abstrak.
b. Metode Mengajar Teman Sebaya
Beberapa
ahli percaya bahwa satu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila
seorang peserta didik mampu mengajarkan pada peserta lain. Mengajar teman
sebaya memberikan kesempatan pada peserta didik mempelajari sesuatu dengan baik
pada waktu yang sama, ia menjadi narasumber bagi yang lain.
Adapun langkah-langkah metode mengajar teman
sebaya ini, adalah:
- Memulai dengan memberikan kisi-kisi atau bahan
pelajaran kepada santri
- Menyuruh santri untuk mempelajarinya atau
mendiskusikannya sejenak
- Menunjuk perwakilan dari santri untuk maju ke
depan
- Menyuruh perwakilan santri tersebut untuk
mengajarkan (menerangkan) materi yang telah didiskusikan atau dipelajari.
B
Model
Pembelajaran di Sekolah Alam
Model
pembelajaran yang digunakan di dalam sekoalh alam biasanya banyak berkaitan
langsung terhadap alam sekitar. Sehingga metode tersebut lebih memberikan
pengalaman langsung terhadap siswa. Model pembelajaran tersebut antara lain
menggunakan metode sebagai berikut :
·
Media pendidikan, Observasi dan Riset. Dengan cara mengamati dan memahami langsung gejala
alam yang terjadi, sehingga kita bisa mendapatkan media belajar yang bermutu
dan murah.
·
Modal Produksi (Magang dan Dagang). Dengan mengolah hasil dari praktik di alam,diharapkan
mampu membiayai diri sehingga secara langsung belajar hidup mandiri.
·
Sarana pengembangan manusia. Manusia yang tumbuh dan berkembang berdasarkan
interaksinya dengan alam akan menghasilkan manusia yang berakhlak mulia
terhadap sang Khaliq (Ibadah), sesama manusia dan mahluk lainnya (Mua’malah)
serta adil dan cinta damai (Khalifah).
selain metode di atas, sekolah alam juga
menggunakan Metode Action Learning (AL) memiliki formula L = P +
Q. Rinciannya: L untuk learning, P untuk “program knowledge” yang
diperoleh dari buku, majalah, internet atau televisi yang telah didisain untuk
keperluan siswa atau mahasiswa, sedangkan Q adalah “the questioning process“yaitu
proses bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi. Menurut Dr. Antony Hii,
perguruan tinggi dunia sekelas Harvard dan Massachussets Institute of
Technology (MIT) kini telah menerapkan sistem yang serupa dengan AL, hanya saja
di Harvard asas itu disebut dengan asas “what if“: belajar
mengantisipasi “bagaimana jika sesuatu hal terjadi dan apa yang mungkin terjadi
di masa depan.”
Bisa disimpulkan bahwa AL
merupakan sebuah metode alternatif untuk melengkapi metode-metode peningkatan
sumber daya manusia yang selama ini dijadikan konsep baku di seluruh dunia
melalui sistem kurikulum klasikal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
Mengapa menggunakan Action Learning? Kombinasi “doing” dan “thinking”
pada kegiatan Action Learning menghasilkan beberapa manfaat yang unik. Seperti
hal dibawah ini:
·
Ownership.
·
Creativity.
·
Communication.
·
Personal
growth.
·
Application.